Serikat pekerja RSS menyoroti cakupan jaminan sosial dan kekhawatiran AI pada konferensi ILO
Bharatiya Mazdoor Sangh (BMS), sayap buruh Rashtriya Swayamsewak Sangh (RSS) mendesak negara-negara untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan melengkapi pekerja, bukan menggantikan mereka, sambil menyoroti cakupan jaminan sosial India dan perlindungan bagi pekerja gig di Konferensi Perburuhan Internasional. Berbicara pada konferensi perburuhan internasional ke-114 di Jenewa pada hari Selasa (9 Juni), delegasi BMS Bojji Surendran mengklaim India telah menerima pengakuan internasional karena mencapai 64% cakupan jaminan sosial untuk tenaga kerjanya, menggambarkannya sebagai yang tertinggi di dunia. Ia mengatakan penghargaan tersebut diberikan oleh Asosiasi Jaminan Sosial Internasional pada KTT Jaminan Sosial Dunia di Kuala Lumpur. “Pada saat pengangguran global diperkirakan akan tetap stabil sebesar 4,9%, masih adanya kesenjangan pekerjaan global yang mempengaruhi lebih dari 400 juta orang menjadi pengingat bahwa lapangan kerja saja tidak cukup,” demikian isi transkrip pidatonya yang dibagikan oleh organisasi tersebut. Ia mendesak agar pemerintah dan lembaga-lembaga internasional harus fokus pada pekerjaan layak yang memberikan upah yang adil, perlindungan sosial, keselamatan kerja, dan kesempatan memperoleh keterampilan pembangunan.Dia juga menyatakan keprihatinannya atas ketegangan di Asia Barat, dengan mengatakan konflik mempengaruhi mobilitas tenaga kerja, lapangan kerja di luar negeri, arus pengiriman uang, rantai pasokan, dan keberlanjutan usaha kecil. Serikat pekerja, tambahnya, mempunyai peran dalam mendorong dialog dan membangun kepercayaan selama masa konflik. Merujuk pada laporan Direktur Jenderal ILO mengenai kecerdasan buatan, Surendran mengatakan bahwa teknologi baru harus dirancang untuk membantu manusia, bukan menggusur mereka. Ia menyambut baik upaya terbaru yang dilakukan oleh Serikat Pekerja dan beberapa pemerintah negara bagian untuk memperluas perlindungan jaminan sosial bagi para pekerja gig dan platform, dan menyebutnya sebagai langkah penting menuju inklusi dalam ekonomi digital. Surendran juga mengkritik penggunaan istilah “pasar tenaga kerja”, dengan alasan bahwa tenaga kerja harus dipandang sebagai sumber daya manusia dan bukan sebagai komoditas. Ia meminta negara-negara anggota untuk mengadopsi terminologi yang mencerminkan martabat dan rasa hormat terhadap pekerja. Diterbitkan – 10 Juni 2026 04:14 IST
Diterbitkan : 2026-06-09 22:44:00
sumber : www.thehindu.com



