Biaya pengangkutan masih menjadi beban bagi eksportir UMKM
Gambar digunakan untuk tujuan representasi saja. File foto: Getty Images/iStockphoto Bagi para eksportir segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), ongkos angkut yang naik akibat perang AS-Iran-Israel terus menjadi beban.Baca juga | Gubernur RBI mendesak bank untuk memperlakukan UMKM sebagai mitra jangka panjang. Biaya kontainer 20 TEU dari Thoothukudi atau Kochi ke Kolombo, yang dulunya $400, kini menjadi $600. Belum ada tanda-tanda penurunan harga, kata V. Rangaswamy, presiden Asosiasi Industri Kecil Distrik Coimbatore (CODISSIA). “Kontainer yang tertahan di pelabuhan di negara-negara Asia Barat tidak ada di pasar, sehingga menyebabkan kelangkaan. Hal ini juga mendorong kenaikan biaya,” katanya. Bagi UMKM di sektor teknik, harga baja naik hampir 30%, harga tembaga dan kuningan naik dua kali lipat, dan harga kemasan melonjak. “UMKM tidak mempunyai margin untuk menanggung kenaikan tajam biaya pengiriman. Terlebih lagi, mereka yang mengekspor barang-barang yang mudah rusak akan terkena dampak dari menunggunya kontainer,” kata Rangaswamy. Eksportir garmen di Tiruppur mengatakan bahwa biaya pengiriman naik hampir 200% untuk pengiriman ke AS dan Uni Eropa. Saat ini sudah mulai berkurang. Dalam hal ekspor ke negara-negara Asia Barat, biaya untuk peti kemas 20 TEU adalah $300-$350 dan sekarang menjadi $4,500, dan untuk peti kemas 40 TEU, harganya menjadi $5,900 dari sekitar $700. Selain itu, jangka waktu pengirimannya dua minggu lebih lama, kata mereka. Meskipun beberapa pembeli telah bersedia menanggung biayanya, sebagian besar dari mereka tidak mau menanggung biayanya. “Pembeli juga mengalami tekanan karena inflasi meningkat di negara mereka,” tambah Mr. Rangaswamy. Menurut Pankaj Chadha, ketua EEPC India, biaya pengangkutan telah mengalami “peningkatan dramatis” dan merupakan masalah besar bagi eksportir. Penantian kontainer untuk pengiriman ke Amerika dan negara-negara Amerika Selatan hampir dua minggu, katanya. Meskipun para eksportir telah menyampaikan masalah ini kepada pemerintah Uni Eropa, namun tidak ada solusi yang dapat meringankan masalah ini. “Ongkos angkut tidak bisa diatur dan pembeli tidak mau menanggung biayanya. Jadi, kami tidak punya pilihan selain menanggung biayanya. Ini mirip dengan masa COVID ketika biaya angkut naik,” katanya. Bagi eksportir di segmen UMKM, ketidakpastian dan kenaikan biaya telah memukul operasi dan menyebabkan kerugian, kata perwakilan industri. Diterbitkan – 28 Juni 2026 09:53 IST
Diterbitkan : 2026-06-28 04:23:00
sumber : www.thehindu.com



