Mengapa kesibukan bisa membodohi para pemimpin

Pada tahun 2025, Kamus Cambridge menambahkan lebih dari 6.000 kata baru. Salah satunya adalah “mouse jiggler”—perangkat atau perangkat lunak yang digunakan untuk membuat mouse komputer tampak seolah-olah sedang bergerak sehingga seolah-olah Anda sedang bekerja padahal sebenarnya tidak. Ini merupakan tambahan yang menarik pada katalog yang terhormat. Para profesional semakin banyak menemukan cara cerdas untuk terlihat sibuk padahal sebenarnya tidak sibuk. Mungkin mereka sedang minum kopi atau berolahraga sebentar. Sementara itu, metrik produktivitas umum tidak bisa membedakannya. Sebagai pemilik bisnis, saya melihatnya bukan sebagai alasan karyawan dan lebih sebagai masalah budaya yang lebih luas. Orang-orang sangat ingin tampil produktif setiap saat. Masalahnya bukanlah usaha; itulah yang diputuskan oleh organisasi untuk diukur. Menurut pengalaman saya, mengukur metrik yang tepat, dari atas ke bawah, dapat mengubah cara orang bekerja, belum lagi transparansi seputar periode ketika mereka sangat membutuhkan istirahat atau mengurus urusan pribadi. Berikut adalah tinjauan lebih dekat mengenai metrik produktivitas yang penting, dan juga metrik yang tidak seharusnya penting, di tingkat CEO. Menghargai dampak, bukan aktivitasNilai tatap muka—waktu yang dihabiskan di tempat kerja, sekadar menunjukkan wajah Anda—sudah tertanam kuat dalam budaya tempat kerja kita. Penelitian telah menemukan bahwa para pemimpin menganggap karyawan yang hanya diamati di tempat kerja (yaitu, waktu bertatap muka secara pasif) lebih dapat diandalkan atau lebih berkomitmen. Banyak organisasi masih mengandalkan indikator kinerja yang sudah ketinggalan zaman, seperti jam kerja yang dicatat, kehadiran rapat, dan email yang dikirim—yang merupakan versi modern dari “waktu tatap muka”. Terlebih lagi, mereka menerapkan metrik yang sama kepada seluruh karyawan, seolah-olah kelompok yang berbeda mempunyai fungsi dan tujuan yang sama.
Diterbitkan : 2026-06-25 05:00:00
sumber : www.fastcompany.com



