Kepercayaan rusak. Inilah cara kami membangunnya kembali

Salah satu hal pertama yang saya perhatikan ketika saya tinggal di negara-negara bekas Blok Timur adalah seberapa sering teori konspirasi muncul dalam percakapan sehari-hari. Institusi masyarakat telah lama kehilangan kepercayaan, sehingga versi resmi dari segala sesuatu selalu diragukan. Orang-orang membentuk narasi mereka sendiri untuk menjelaskan hampir segalanya. Saat ini kita melihat hal serupa di Amerika. Survei tahunan Gallup menemukan sangat sedikit kepercayaan di hampir semua kelas institusi, termasuk dunia usaha. Misalnya, ketika ditanya lembaga mana yang “sangat” atau “sangat” mereka percayai, hanya 15% yang mengatakan bahwa mereka mempercayai perusahaan besar, 11% mempercayai berita televisi, dan hanya 10% yang mempercayai Kongres. Ini lebih dari sekedar masalah persepsi. Ini adalah gangguan dalam cara masyarakat berfungsi. Kepercayaanlah yang memungkinkan tindakan kolektif. Tanpa hal ini, orang-orang tidak hanya tidak sepakat mengenai solusi, mereka juga tidak lagi sepakat mengenai apa yang nyata. Itulah yang kita lihat sekarang. Jika kita ingin memimpin secara efektif, baik di masyarakat atau di dalam organisasi, kita perlu memikirkan kembali bagaimana kepercayaan sebenarnya bisa diciptakan. Asal Usul Identitas dan Kepercayaan Secara tradisional, teori yang berlaku di kalangan intelektual adalah bahwa agama berasal dari takhayul. Manusia memerlukan cara untuk mengatasi kekuatan acak yang tidak dapat mereka kendalikan, seperti hujan dan kekeringan. Agama memberi masyarakat primitif suatu cara untuk memahami dunia, atau begitulah pemikirannya. Namun para psikolog evolusioner menunjukkan kelemahan fatal dalam gagasan tersebut. Agama itu mahal. Seperti yang dapat dibuktikan oleh siapa pun yang pernah mengunjungi gereja-gereja di Eropa, hal ini memerlukan banyak sumber daya dan upaya manusia. Jika agama hanya sekedar takhayul, masyarakat yang tidak beragama seharusnya mampu mengungguli masyarakat yang beragama. Dan kita tahu dari situ hal itu tidak terjadi. Saat ini, teori evolusi agama yang berlaku adalah bahwa agama memungkinkan tindakan kolektif. Dalam arti tertentu, hiasan, nyanyian, nyanyian, dan tepuk tangan adalah intinya. Jika orang-orang dapat berkumpul untuk melakukan ritual yang rumit, mereka juga dapat berkoordinasi dalam tugas-tugas kompleks lainnya, seperti mengatur perburuan, membangun bangunan, dan melakukan serangan terkoordinasi terhadap musuh.
Diterbitkan : 2026-06-08 08:00:00
sumber : www.fastcompany.com



