Perintah Trump mengenai AI memberi Washington gambaran mengenai model perbatasan, namun tidak memberikan banyak pengaruh


Model AI yang paling kuat kini dianggap, setidaknya di Washington, sebagai potensi peristiwa keamanan nasional. Sebelum perusahaan merilis model tersebut ke publik, pemerintah menginginkan kesempatan untuk melihat apa yang dapat mereka lakukan: apakah mereka dapat menemukan kerentanan perangkat lunak, membantu serangan siber, atau menimbulkan risiko yang mungkin tidak sepenuhnya dipahami oleh pejabat federal sampai model tersebut sudah digunakan. Perintah eksekutif baru dari Presiden Trump, yang ditandatangani pada hari Selasa, dimaksudkan untuk memberikan kesempatan tersebut kepada pemerintah. Namun versi finalnya membuat perusahaan AI memiliki kendali besar atas prosesnya. Perjanjian ini meminta mereka untuk secara sukarela menyerahkan model-model canggih untuk ditinjau oleh pemerintah 30 hari sebelum rilis publik, dan tidak membuat rilis tersebut bergantung pada apa yang ditemukan oleh lembaga-lembaga tersebut. Ini adalah kerangka kerja yang lebih lunak dibandingkan yang telah dipertimbangkan oleh Gedung Putih bulan lalu. Draf sebelumnya telah mengamanatkan jangka waktu 90 hari, yang ditentang oleh para eksekutif industri teknologi. Presiden hampir menandatangani versi pertama perintah tersebut, tetapi setelah panggilan telepon dengan mantan raja AI dan kripto David Sacks, EO tersebut ditunda. Dalam pertemuan lain di Gedung Putih pada hari Senin, Sacks sekali lagi menekankan bahwa waktu tunggu yang lebih lama akan menghambat pengembangan model AI di dalam negeri. Pendekatan ini mendapat pujian dari kelompok pasar bebas. “Pemerintah berhak mendapat pujian karena mengakui bahwa inovasi, bukan peraturan kehati-hatian, adalah hal yang membuat Amerika menjadi pemimpin global dalam bidang AI,” kata rekannya di Competitive Enterprise Institute, Wayne Crews. EO dengan hati-hati mencatat bahwa program penilaian pemerintah bersifat sukarela bagi perusahaan AI, dan peluncuran model-model baru ke publik tidak bergantung pada hasil penilaian. Mengingat potensi kekuatan destruktif dari model AI baru seperti Anthropic’s Mythos, perintah tersebut menempatkan pemerintah dalam peran yang terbatas: cukup dekat untuk meninjau sistem, namun belum tentu diberi wewenang untuk memperlambatnya, demikian pengamatan beberapa analis kebijakan teknologi. Para kritikus mengatakan struktur sukarela memberikan terlalu banyak kekuasaan kepada perusahaan yang sedang ditinjau. Kelompok advokasi hak-hak konsumen, Public Citizen, menyebut pengaturan tersebut sebagai bentuk pengaturan mandiri industri, sedangkan organisasi nirlaba yang pro-peraturan, Future of Life Institute, berpendapat bahwa model berkemampuan tinggi seperti Mythos memerlukan lebih dari sekadar pendekatan “percaya pada perusahaan”.


Diterbitkan : 2026-06-03 14:38:00

sumber : www.fastcompany.com