Marinir AS meluncurkan drone mata-mata yang tahan lama dari kapal perang di Laut Cina Selatan

Sebuah drone pengintai kecil AS yang diluncurkan dari dek kapal perang Angkatan Laut jauh di Laut Cina Selatan menunjukkan bagaimana kekuatan angkatan laut di masa depan dapat memperluas pandangan mereka jauh melampaui cakrawala tanpa bergantung pada kapal induk atau pesawat berawak berukuran besar. Pada tanggal 17 Juni, Marinir yang ditugaskan di Unit Ekspedisi Marinir (MEU) ke-11 meluncurkan sistem udara tak berawak V-BAT dari dermaga transportasi amfibi USS Portland saat beroperasi dengan Boxer Amphibious Ready Group di Indo-Pasifik. Demonstrasi tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan yang memungkinkan kapal perang amfibi melakukan misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) secara terus-menerus menggunakan drone yang tidak memerlukan landasan pacu atau infrastruktur peluncuran khusus. Di era yang semakin ditentukan oleh operasi terdistribusi dan lingkungan maritim yang penuh persaingan, sistem seperti V-BAT menawarkan kepada para komandan sarana yang relatif berbiaya rendah untuk mempertahankan pengawasan terus-menerus tanpa menggunakan pesawat berawak yang berharga untuk melakukan pengintaian. Drone yang dirancang untuk kapal tanpa landasan pacu Menurut laporan Defense Blog, V-BAT, yang secara resmi diberi nama MQ-35A oleh militer AS, adalah drone yang lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL) yang dirancang untuk beroperasi dari kapal, pangkalan ekspedisi, dan lokasi lain di mana pesawat konvensional akan kesulitan untuk meluncurkan atau memulihkannya. Berbeda dengan drone sayap tetap tradisional yang memerlukan landasan pacu atau ketapel, V-BAT menggunakan sistem propulsi kipas saluran tunggal, yang memungkinkannya lepas landas dan mendarat secara vertikal sebelum beralih ke penerbangan maju. Desain ini menggabungkan fleksibilitas peluncuran helikopter dengan keunggulan daya tahan pesawat sayap tetap. Shield AI mengatakan sistem tersebut dapat tetap mengudara selama lebih dari 10 jam, membawa muatan sensor elektro-optik dan inframerah, dan beroperasi dari area peluncuran berukuran sekitar 20 kali 20 kaki (6 kali 6 meter). Sebuah tim yang terdiri dari dua orang dilaporkan dapat merakit dan meluncurkan pesawat dalam waktu kurang dari 30 menit. Jejak kompak ini sangat berharga di kapal amfibi dimana ruang dek penerbangan terbatas dan setiap meter persegi harus dikelola dengan hati-hati. Dibangun untuk peperangan tanpa GPS Drone ini menggunakan perangkat lunak otonomi Hivemind dari Shield AI, yang dirancang untuk memungkinkan pesawat terus beroperasi di lingkungan di mana sinyal GPS terdegradasi, ditolak, atau sengaja macet. Ketika kemampuan peperangan elektronik terus berkembang, menjaga efektivitas navigasi dan misi tanpa akses terus-menerus ke sinyal satelit menjadi semakin penting. Shield AI sebelumnya telah menyatakan bahwa V-BAT berhasil melakukan misi intelijen, pengawasan, pengintaian, dan penargetan jangka panjang di Ukraina meskipun beroperasi di lingkungan tanpa GPS yang terpengaruh oleh peperangan elektronik. Kemampuan tersebut sangat relevan di Indo-Pasifik, di mana konflik di masa depan kemungkinan besar akan melibatkan gangguan komunikasi yang luas, gangguan komunikasi, dan upaya untuk menurunkan sistem navigasi satelit. Mengapa Laut Cina Selatan Penting Laut Cina Selatan memiliki jalur pelayaran penting, pulau-pulau yang disengketakan, dan klaim teritorial yang tumpang tindih yang melibatkan banyak negara. Bagi komandan angkatan laut yang beroperasi di sana, informasi bisa sama berharganya dengan senjata. Radar kapal perang pada akhirnya dibatasi oleh kelengkungan Bumi, sehingga membatasi jarak pandangnya. Drone membantu mengatasi keterbatasan tersebut dengan memperluas pengawasan jauh melampaui jangkauan sensor kapal. Dengan daya tahan yang melebihi sepuluh jam, V-BAT dapat memberikan cakupan overhead yang persisten di perairan sekitar, membantu awak kapal memantau aktivitas pelayaran, mengidentifikasi potensi ancaman, dan menjaga kesadaran situasional di area yang jauh lebih luas daripada yang bisa dilakukan oleh sensor kapal saja. Sekilas tentang peperangan angkatan laut di masa depan Militer di seluruh dunia menggunakan sistem yang lebih kecil dan otonom untuk memperluas jangkauan operasional tanpa menambah kebutuhan sumber daya manusia atau infrastruktur. Daripada hanya mengandalkan helikopter atau pesawat berbasis kapal induk untuk melakukan pengintaian, kapal perang kini semakin banyak mengerahkan drone kompak yang mampu beroperasi secara independen untuk jangka waktu lama. Bagi kelompok amfibi seperti Boxer Amphibious Ready Group, hal ini berarti kesadaran situasional yang lebih besar ketika beroperasi jauh dari pantai dan tanpa ketergantungan pada lapangan terbang terdekat. V-BAT sendiri mungkin relatif kecil, namun kemampuan yang diwakilinya sangat signifikan. Sebuah kapal perang yang dapat meluncurkan aset pengawasan secara terus-menerus dari mana saja di laut akan memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang lingkungan di sekitarnya, dan dalam peperangan angkatan laut modern, melihat terlebih dahulu sering kali sama pentingnya dengan menyerang terlebih dahulu.


Diterbitkan : 2026-06-22 15:44:00

sumber : interestingengineering.com