Penelitian baru menunjukkan ‘kepribadian’ robot dalam permainan bergantung pada waktu dan pengambilan giliran
Penelitian baru menemukan bahwa robot humanoid bisa menjadi teman bermain yang efektif bagi manusia, tetapi hanya jika perilaku mereka sejalan dengan ekspektasi manusia. Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) mengeksplorasi bagaimana manusia berinteraksi dengan robot humanoid selama permainan fisik. Tim melakukan eksperimen laboratorium terkontrol menggunakan Pepper, robot sosial yang dibuat untuk berinteraksi dengan manusia, untuk lebih memahami pengalaman bermain bersama atau melawan robot. Temuan ini menunjukkan bahwa robot bisa menjadi teman bermain game yang menyenangkan ketika mereka bertindak secara alami dan merespons alur permainan dengan tepat. Namun, perilaku yang tidak sesuai, gerakan yang canggung, atau sikap yang terlalu kompetitif dapat dengan cepat membuat pengguna frustrasi dan mengurangi keterlibatan selama interaksi. Tes rekan satu tim robot Robot humanoid seperti Pepper dirancang untuk terlihat dan berperilaku menyerupai manusia, menampilkan ciri-ciri yang dapat dikenali seperti kepala, mata, tangan, ekspresi wajah, dan kemampuan percakapan. Menurut para peneliti, karakteristik mirip manusia ini membantu manusia lebih mudah berhubungan dengan robot, namun juga menciptakan ekspektasi bahwa robot akan bertindak dengan cara yang sesuai secara sosial dan dapat diprediksi. Untuk lebih memahami bagaimana manusia berinteraksi dengan robot saat bermain, para peneliti melakukan percobaan di mana partisipan memainkan bola basket tong sampah versi fisik dengan Pepper. Permainan ini melibatkan pelemparan bola kertas kusut ke tempat sampah dari posisi yang ditentukan untuk memberikan tingkat tantangan yang seimbang bagi peserta manusia dan robot. Studi ini meneliti dua mode gameplay yang berbeda. Dalam satu mode, peserta bekerja sama dengan Pepper sebagai rekan satu tim yang berupaya mencapai tujuan bersama. Di sisi lain, mereka berkompetisi langsung melawan robot. Para peneliti juga memvariasikan urutan permainan, dengan peserta manusia atau Pepper mengambil giliran pertama. Dengan membandingkan skenario ini, tim mengevaluasi bagaimana mode permainan dan urutan giliran memengaruhi keterlibatan pemain, motivasi, kenikmatan aktivitas fisik, dan respons emosional. Temuan ini mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang tampaknya kecil, seperti siapa yang mengambil giliran pertama dan apakah interaksi tersebut bersifat kooperatif atau kompetitif, dapat secara signifikan memengaruhi cara orang memandang pengalaman tersebut. “Pengamatan kami menunjukkan bahwa robot sebenarnya bisa menjadi teman bermain yang baik, tetapi hanya jika mereka berperilaku masuk akal bagi manusia,” kata Yavuz Inal, profesor di Departemen Desain NTNU di Gjøvik, dalam sebuah pernyataan. Kemenangan permainan kooperatif Peserta umumnya melaporkan pengalaman paling positif ketika permainan dimulai dalam mode kooperatif. Namun, permainan kompetitif juga terbukti sangat menarik bagi banyak pemain. Beberapa peserta merasa berkompetisi melawan Pepper lebih menarik dan memotivasi, terutama ketika mereka diizinkan untuk memulai permainan terlebih dahulu, sehingga meningkatkan rasa kendali mereka terhadap interaksi. Banyak pemain juga merasakan pencapaian yang kuat ketika mereka mengungguli robot. Bahkan ada yang mengakui bahwa menyaksikan tembakan Pepper yang gagal menambah kenikmatannya. Bagi para peserta ini, kompetisi dengan robot humanoid menciptakan tantangan yang menyenangkan, tujuan yang jelas, dan rasa penguasaan yang bermanfaat yang meningkatkan pengalaman bermain game secara keseluruhan. Studi ini juga menemukan bahwa partisipan menjadi frustrasi dengan Pepper karena alasan yang serupa dengan alasan yang membuat orang kesal terhadap teman atau anggota keluarga yang terlalu kompetitif selama permainan papan. Frustrasi terutama terlihat ketika robot memulai permainan dalam mode kompetitif. Kecepatan Pepper yang lambat, jeda yang lama sebelum mengambil giliran, dan tekad yang jelas untuk menang sering kali berbenturan dengan ekspektasi peserta tentang bagaimana seharusnya perilaku teman bermain yang mirip manusia. Akibatnya, beberapa pemain merasa robot tersebut kurang responsif dan aliran alami yang dibutuhkan untuk gameplay yang menyenangkan. Salah satu peserta menyamakan pengalamannya dengan bermain melawan “pencetak yang bekerja terlalu keras dengan tangan.” Menurut para peneliti, orang-orang berharap robot yang berperan sebagai teman bermain akan bertindak seperti pemain asli. “Hasilnya memberikan gambaran sekilas tentang masa depan di mana robot tidak hanya membantu kita di tempat kerja dan dalam sistem perawatan kesehatan, namun juga berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari seperti bermain, berolahraga, dan permainan,” kata tim tersebut dalam sebuah pernyataan.
Diterbitkan : 2026-06-12 17:43:00
sumber : interestingengineering.com



