Ketika kompetensi menjadi sebuah tanggung jawab

Kompetensi adalah salah satu kualitas yang paling dihargai di tempat kerja—kompetensi menghasilkan kepercayaan, membuka pintu, dan menciptakan peluang. Ketika sesuatu yang penting perlu diselesaikan, organisasi secara alami tertarik pada orang-orang yang telah menunjukkan bahwa mereka mampu menanganinya. Bagi banyak orang yang berprestasi tinggi, kompetensi menjadi sumber identitas sekaligus keterampilan. Mereka adalah orang-orang yang dapat terlibat dalam percakapan yang sulit, menyelesaikan masalah yang berantakan, menangani krisis, atau mengadakan proyek yang rumit bersama-sama ketika semua orang kewalahan. Seiring berjalannya waktu, orang lain mulai mengandalkan mereka, dan mereka juga mengandalkan peran tersebut. Pada pandangan pertama, hal ini tampak sepenuhnya positif. Lagi pula, sebagian besar nasihat kepemimpinan berfokus pada bagaimana menjadi lebih mampu, lebih efektif, dan lebih dapat diandalkan. Lelah dan kesal Baru-baru ini, saya berbicara dengan seorang pemimpin senior yang merasa lelah dan semakin kesal. Hari-harinya dipenuhi dengan pertemuan. Dia secara rutin menangani masalah-masalah yang menjadi tanggung jawab bawahan langsungnya, mengambil tanggung jawab atas proyek-proyek yang seharusnya didelegasikan, dan menjawab pertanyaan dari rekan kerja yang telah mengetahui bahwa dia hampir selalu memberikan jawaban. Ketika saya bertanya kepadanya mengapa dia terus mengambil alih begitu banyak hal, dia tidak menyebutkan ekspektasi organisasi atau tenggat waktu yang tidak realistis. Sebaliknya, dia berhenti sejenak dan berkata, “Sejujurnya, saya tidak yakin saya tahu caranya untuk tidak melakukannya.” Tanggapan itu terus melekat dalam ingatan saya karena saya mendengar versi-versinya sepanjang waktu.
Diterbitkan : 2026-06-08 12:58:00
sumber : www.fastcompany.com



