
Dari semakin akrabnya kita dengan bau kita sendiri hingga persepsi risiko penyakit, ada beberapa teori yang menjelaskan mengapa mulut kita tampak kurang berbau dibandingkan mulut orang lain.
Pengalaman memalukan karena menoleransi bau perut kembung milik sendiri sementara merasa muak dengan perut kembung orang lain memiliki penjelasan ilmiah yang berakar pada evolusi, psikologi, dan manusia. sistem pencegahan penyakit otak. Apa yang tampak seperti lelucon buruk ternyata merupakan interaksi yang kompleks antara biologi, keakraban, dan cara manusia menilai risiko.
Dasar kimiawi dari bau perut kembung yang tidak sedap sudah diketahui dengan baik. Sebuah pencarian diterbitkan dalam majalah Gut menemukan bahwa meskipun sebagian besar gas usus tidak berbau, sejumlah kecil senyawa belerang bertanggung jawab atas hal tersebut bau khas “telur busuk”.. Dengan kata lain, perut kembung secara obyektif tidak menyenangkan pada tingkat sensorik. Namun, persepsi berubah ketika otak memperhitungkan siapa yang memproduksinya.
Penelitian yang dipublikasikan di beberapa jurnal ilmiah menunjukkan bahwa rasa tolak-menolak yang disebabkan oleh bau badan yang tidak sedap tidak hanya ditentukan oleh bahan kimia. Satu belajar diterbitkan dalam European Journal of Social Psychology menunjukkan bahwa orang secara konsisten menilai bau sebagai hal yang kurang menyenangkan percaya bahwa sumbernya adalah diri mereka sendiridan bukan orang lain.
“Efek sumber” ini mencerminkan mekanisme pertahanan evolusioner: manusia cenderung menghindari patogen potensial yang dibawa oleh orang asing, sementara mereka lebih toleran terhadap mikrobioma mereka sendiriyang sudah dikenali oleh sistem kekebalan Anda, jelaskan alasannya Pos Psy.
Psikolog berpendapat bahwa keakraban juga memainkan peran penting. Pengalaman diterbitkan di majalah Perception menunjukkan efek “sekadar paparan”: orang menilai bau yang familiar kurang kuat dan tidak sedap dibandingkan bau yang tidak dikenal. Sebagai individu yang terus-menerus terkena bau badannya sendiriotak memprosesnya sebagai hal yang tidak terlalu mengkhawatirkan. Bau orang asing, yang dibentuk oleh pola makan dan mikrobiota usus yang berbeda, adalah hal baru yang memicu sistem deteksi ancaman di otak.
Penelitian ilmu saraf menambahkan lapisan lain pada penjelasannya. Studi neuroimaging diterbitkan dalam jurnal NeuroImage menunjukkan bau yang tidak sedap mengaktifkan amigdalawilayah yang terkait dengan ketakutan dan ancaman. Pada saat yang sama, area otak yang lebih tinggi yang terlibat dalam penilaian dan konteks dapat melemahkan respons alarm ini ketika bau tersebut dikenali berasal dari seseorang.
Pembelajaran emosional semakin memperkuat pola ini. Melepaskan gas sering terjadi berhubungan dengan pertolongan fisiksensasi tubuh yang positif. Seiring waktu, otak mengasosiasikan bau itu sendiri dengan perasaan lega, sehingga lebih mudah untuk ditoleransi. Sebaliknya, menghadapi perut kembung pada orang lain adalah hal yang tidak nyaman secara sosial dan dikaitkan dengan rasa malu atau masalah kebersihan, sehingga meningkatkan respons emosional negatif.
Secara keseluruhan, para ilmuwan menggambarkan hal ini sebagai ilusi kognitif fungsional: manusia diprogram untuk lebih toleran terhadap produk sampingan biologis mereka sendiri sambil tetap waspada terhadap produk sampingan biologis lainnya.



