Dampak konflik Iran terhadap stabilitas energi global kini terasa kuat di Asia. Gangguan besar pada pasokan minyak dari Timur Tengah memaksa sejumlah negara seperti Korea Selatan dan Filipina untuk mempertimbangkan kerja sama dengan Rusia dan Iran.

Hingga tahun lalu, banyak sekutu Amerika Serikat di Asia masih mematuhi sanksi Barat dengan menghindari pembelian minyak dari Rusia. Hubungan dengan Iran pun sangat terbatas. Namun, eskalasi konflik yang melibatkan Iran serta serangan dari AS dan Israel telah mengubah situasi secara signifikan.

Guncangan di pasar energi global membuat banyak negara Asia menghadapi tekanan serius. Dalam kondisi ini, menjalin komunikasi dengan Moskow dan Teheran menjadi langkah strategis demi menjaga kestabilan pasokan energi.

Pada hari Senin, seorang utusan khusus Korea Selatan bertemu pejabat Iran untuk membahas kapal-kapal yang tertahan di Teluk Persia. Di hari yang sama, Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengunjungi Moskow untuk membahas pembelian minyak.

Sebelum konflik meningkat, sekitar 80 persen minyak yang melewati Selat Hormuz dikirim ke Asia. Kini, gangguan akibat perang telah menyebabkan kekurangan pasokan, terutama bagi negara seperti Filipina yang memiliki cadangan minyak terbatas.

Ketidakpastian mengenai durasi konflik, ditambah dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang kurang jelas, mendorong sejumlah pemimpin Asia untuk mencari alternatif di luar pengaruh Washington. Akibatnya, beberapa negara kembali membeli minyak dari Rusia dan Iran untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.

Langkah ini dimungkinkan karena pelonggaran sebagian sanksi oleh AS guna meredakan krisis energi global. Bulan lalu, Filipina menerima pengiriman pertama minyak mentah Rusia setelah lima tahun. Sementara itu, India juga kembali mengimpor minyak Iran secara resmi setelah tujuh tahun jeda.

Meski tidak secara langsung menunjukkan pergeseran aliansi, transaksi ini secara tidak langsung memperkuat posisi rival Amerika. Huong Le Thu dari International Crisis Group menyebut kebijakan luar negeri AS saat ini mendorong banyak negara mencari alternatif di luar pengaruhnya.

Di tengah krisis ini, Rusia kembali memainkan peran penting. Bagi banyak negara Asia, opsi untuk menghindari Selat Hormuz sangat terbatas, dan Rusia menjadi salah satu sumber utama alternatif.

Situasi ini juga membawa Presiden Rusia Vladimir Putin kembali ke sorotan global. Presiden Indonesia bahkan memuji peran Rusia dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik saat ini.

Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, banyak negara Asia sempat menghentikan impor minyak Rusia. Namun kini, harga minyak Rusia bahkan melampaui harga pasar global. Menurut analis Vortexa, Emma Li, dalam kondisi saat ini negara-negara tidak memiliki banyak pilihan selain tetap membeli, terlepas dari harga yang tinggi.

Perkembangan ini menunjukkan perubahan dinamika geopolitik di Asia, di mana kepentingan energi mulai menggeser loyalitas tradisional terhadap Amerika Serikat.