AS berencana membangun generasi baru drone tempur berbiaya rendah yang dapat melumpuhkan pertahanan musuh

Departemen Pertahanan AS sedang mencari generasi baru drone tempur berbiaya rendah yang dapat melakukan banyak misi yang sama seperti MQ-9A Reaper tanpa harus mengeluarkan harga yang mahal. Langkah ini menunjukkan perubahan besar dalam pendekatan militer karena medan perang modern semakin mendukung penggunaan drone yang terjangkau dan dapat dibuang dalam jumlah besar dibandingkan armada pesawat yang lebih kecil dan mahal. Pesawat tak berawak jarak jauh berbiaya rendah Untuk tujuan ini, Unit Inovasi Pertahanan (DIU) Pentagon telah meluncurkan inisiatif Massed Modular Aircraft (MMA), mengundang perusahaan-perusahaan pertahanan untuk mengembangkan pesawat tak berawak modular jarak jauh yang jauh lebih murah daripada MQ-9A Reaper. Tidak seperti platform militer tradisional yang dirancang untuk masa pakai yang lama, drone ini diharapkan dapat “attritable” (attritable)—artinya harga drone tersebut cukup terjangkau sehingga kehilangan sebagian drone dalam pertempuran dianggap dapat diterima secara operasional. Inisiatif ini muncul setelah konflik baru-baru ini menyoroti kerentanan drone bernilai tinggi yang beroperasi di wilayah udara yang diperebutkan. Laporan menunjukkan bahwa AS kehilangan puluhan MQ-9 Reaper selama operasi melawan Iran, yang mengakibatkan kerugian diperkirakan hampir $1 miliar. Dengan biaya setiap MQ-9 Reaper sekitar $30 juta, para perencana militer yakin bahwa hanya mengandalkan platform mahal seperti itu menjadi semakin sulit untuk dibenarkan melawan musuh yang dilengkapi dengan sistem pertahanan udara modern. Drone berbiaya rendah mampu melumpuhkan pertahanan musuh Menurut DIU, ketergantungan militer AS pada pesawat “berdensitas rendah, bernilai tinggi” tidak lagi dapat dipertahankan ketika menghadapi jaringan pertahanan udara yang berlapis dan semakin terjangkau. Sebaliknya, konflik di masa depan mungkin memerlukan drone berbiaya rendah dalam jumlah besar yang mampu melumpuhkan pertahanan musuh melalui volume yang besar. Pasukan Gabungan mencari Sistem Udara Tak Berawak (Unmanned Aerial System/UAS) yang hemat biaya, mampu menjangkau teater, massal, dan modular untuk menyediakan opsi yang fleksibel, responsif secara operasional, dan toleran terhadap risiko di ranah udara. Kemampuan untuk menggunakan banyak pesawat sekaligus memastikan adanya ancaman besar yang terus-menerus meskipun terjadi gesekan yang tidak dapat dihindari. Pesawat modular massal (MMA) dibayangkan sebagai platform yang dapat dikonfigurasi ulang di dalam teater yang mampu mengirimkan muatan jarak jauh. Yang terpenting, MMA harus mempertahankan kemampuan untuk dilengkapi dengan berbagai muatan, termasuk sensor Full Motion Video (FMV), untuk melaksanakan misi yang dilakukan MQ-9A saat ini, menurut badan tersebut. Pesawat Modular Massal yang diusulkan tidak serta merta menggantikan setiap kemampuan MQ-9 Reaper tetapi akan melakukan banyak misi intelijen, pengawasan, pengintaian, dan serangan presisi. Pentagon ingin drone ini memiliki desain modular, yang memungkinkan operator dengan cepat menukar sensor, peralatan komunikasi, atau senjata tergantung pada kebutuhan misi. Persyaratan utama lainnya adalah keterjangkauan. Daripada berinvestasi besar-besaran pada beberapa drone yang canggih, pihak militer ingin mengerahkan armada yang lebih besar yang dapat menyerap kerugian di medan perang tanpa mempengaruhi kemampuan operasional secara signifikan. Perang yang terjadi baru-baru ini telah menunjukkan semakin pentingnya sistem tak berawak yang murah. Penggunaan drone berbiaya rendah dan amunisi yang berkeliaran di Ukraina secara ekstensif telah menunjukkan bahwa platform yang relatif murah dapat menimbulkan kerusakan yang signifikan sekaligus memaksa lawan untuk mengeluarkan rudal pencegat dan sumber daya pertahanan udara yang mahal. Para perencana militer yakin bahwa tren ini akan menjadi lebih nyata dalam konflik di masa depan yang melibatkan musuh yang memiliki kekuatan lebih maju. Kawanan drone yang tidak mahal dapat mempersulit pertahanan musuh, melakukan pengintaian, melaksanakan misi penyerangan, dan mendukung operasi yang lebih besar dengan lebih efisien daripada hanya mengandalkan pesawat tak berawak premium.


Diterbitkan : 2026-07-11 09:55:00

sumber : interestingengineering.com