
Pola makan untuk umur panjang sering kali berfokus pada pola makan nabati. Namun, sebuah penelitian di Tiongkok mengaitkan konsumsi daging dengan umur panjang, terutama di kalangan lansia yang kekurangan berat badan.
Ilmu pengetahuan mengetahui bahwa daging merupakan sumber yang kaya akan asam amino tertentu yang tampaknya mempengaruhi molekul pemberi sinyal yang disebut mTOR, yang berkontribusi terhadap proses penuaan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi daging, atau menghilangkannya, dapat meningkatkan umur panjang, serta mengurangi risiko penyakit seperti penyakit kardiovaskular. Di sisi lain, pola makan nabati dikaitkan dengan tingginya insiden patah tulang dan malnutrisi.
Masalah ini bisa menjadi masalah terutama bagi orang lanjut usia, yang cenderung memiliki tulang yang lebih lemah dan pemulihan yang buruk setelah operasi. Penjelasannya diberikan kepada Ilmuwan Baruoleh Kaiyue Wangdari Universitas Fudan, di Shanghai (Cina).
Untuk lebih memahami hubungan antara nutrisi dan umur panjangdalam studi baru diterbitkan baru-baru ini masuk Jurnal Nutrisi Klinis AmerikaWang dan rekan-rekannya mengumpulkan data dari database kesehatan terpusat Tiongkok tentang orang-orang yang berusia di atas 65 tahun.
Dari profil tersebut, para peneliti menganalisis 5.203 peserta dalam database, yang setidaknya berusia 80 tahun pada tahun 1998 dan bebas dari penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker. Dari jumlah tersebut, sekitar 80% mengatakan bahwa mereka adalah konsumen daging, sedangkan sisanya mengatakan mereka mengikuti pola makan nabati yang sebagian besar terdiri dari sayuran dan sereal, namun terkadang juga produk hewani non-daging.
Disimpulkan bahwa pemakan daging lebih mungkin untuk hidup sampai usia 100 tahun dibandingkan rekan-rekan mereka yang vegetarian, pescetarian, dan vegan.
Daging adalah kuncinya… pada orang kurus
Namun, hal ini hanya signifikan secara statistik jika berat badan ikut diperhitungkan. Di antara vegetarian yang memiliki indeks massa tubuh kurang dari 18,5 (didefinisikan sebagai kekurangan berat badan) pada tahun 1998, 24% mencapai usia 100, dibandingkan dengan hampir 30% dari pemakan daging yang kekurangan berat badan, dan kemungkinannya semakin meningkat jika mereka melaporkan makan daging setiap hari. ITU Tren yang sama tidak diamati pada orang dengan berat badan lebih tinggi.
Memang benar bahwa pola makan kaya daging telah dikaitkan dengan obesitas. Namun, penelitian juga mendukung hal tersebut protein hewani untuk membangun otot dan tulang yang lebih kuat, yang sangat berguna bagi orang yang memiliki berat badan kurang.
Mengkonsumsi banyak sayuran juga penting. Para peneliti juga menemukan bahwa umur panjang umumnya lebih tinggi di antara peserta yang melaporkan mengonsumsi makanan dalam jumlah berapa pun setiap hari. Namun yang lebih penting adalah memiliki pola makan yang seimbang.



