Ahmed Boug dkk./Komunikasi Bumi & Lingkungan

Selain tujuh mumi cheetah, ditemukan 54 sisa hewan lainnya yang telah lama punah di wilayah tersebut.

Yang baru belajar diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment melaporkan penemuan tersebut tujuh mumi cheetah di sebuah gua di gurun Saudi yang berusia antara 100 dan 4000 tahun.

Selain tujuh cheetah yang dimumikan secara alami, sisa-sisa setidaknya 54 cheetah lainnya juga ditemukan di jaringan gua di utara Arab Saudi. Penemuan ini memberikan gambaran sekilas tentang sejarah evolusi, ekologi, dan kemunduran a spesies yang kini punah di wilayah tersebut.

Jenazahnya ditemukan di Sistem gua Laugadekat Arar, di sebelah perbatasan antara Arab Saudi dan Irak. Selain sisa-sisa cheetah, para ilmuwan juga menemukan tulang-tulang hewan yang dijadikan mangsa, membantu merekonstruksi cara predator ini hidup di lingkungan yang mereka tinggali selama ribuan tahun.

Hari ini, itu Cheetah kehilangan sekitar 91% wilayahnya distribusi historis di seluruh dunia, bertahan terutama pada populasi yang terfragmentasi di Afrika. Cheetah Asia, yang dulunya tersebar luas di Timur Tengah, kini terancam punah, dan hanya tersisa sekitar 50 hingga 70 ekor di Iran, lapor the IFLScience.

Penanggalan radiokarbon telah mengungkapkan bahwa cheetah masih ada dalam jangka waktu yang luar biasa. Mumi tertua berasal dari masa lalu lebih dari 4200 tahun yang lalusedangkan yang termuda baru berusia 127 tahun. Menurut para peneliti, rentang usia yang luas ini menunjukkan bahwa cheetah menghuni wilayah tersebut terus menerus selama ribuan tahun, dibandingkan muncul dalam periode terisolasi.

Analisis tengkorak dan tulang mengungkapkan sejumlah besar hewan muda, termasuk anak dan subdewasa, menunjukkan bahwa cheetah berkembang biak di daerah tersebut. Pengujian genetik telah membawa kejutan baru. Meskipun beberapa sisa-sisa berkerabat dekat dengan cheetah Asia, yang lain menunjukkan hubungan genetik dengan cheetah Afrika barat laut, subspesies yang juga tidak ditemukan di Arab. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut mempunyai sejarah rumah bagi banyak garis keturunan cheetahdaripada satu populasi yang terisolasi.

Cheetah terawetkan secara alami karena kondisi panas dan kering di dalam gua, sehingga memperlambat pembusukan. Meskipun gua tidak umum digunakan oleh cheetah modern, para peneliti yakin hewan tersebut dapat dengan bebas masuk dan keluar dari sistem gua, kemungkinan besar menggunakannya sebagai tempat berlindung atau sarang. Gagasan bahwa hewan-hewan tersebut mati setelah jatuh ke dalam perangkap alami dianggap tidak mungkin, mengingat adanya banyak pintu masuk yang dapat diakses.

Penemuan-penemuan tersebut penting tidak hanya untuk memahami masa lalu, tetapi juga untuk merumuskannya strategi konservasi di masa depan. Dengan menunjukkan bahwa Arab Saudi telah menjadi tuan rumah bagi beberapa populasi cheetah dalam jangka waktu yang lama, penelitian ini memperluas pilihan untuk program reintroduksi atau pembangunan kembali di wilayah tersebut.



Tautan sumber