
- Setengah dari perusahaan telah membatalkan proyek AI karena infrastruktur yang buruk
- 97% setuju bahwa cloud memegang peranan penting dalam penyederhanaan dan efisiensi
- Perusahaan juga berada di bawah tekanan dari sudut pandang keberlanjutan
Kecerdasan buatan tidak terbukti menjadi kunci emas bagi banyak bisnis, dengan dua dari tiga (65%) mengakui bahwa lingkungan AI mereka terlalu rumit untuk dikelola dan lebih dari setengah (54%) telah membatalkan proyek AI selama dua tahun terakhir karena masalah infrastruktur.
Dan infrastruktur, menurut State of AI Infrastructure Report terbaru DDN, adalah faktor yang menghambat pertumbuhan bisnis, dan kemudian diikuti oleh energi.
Ke depan, 97% responden setuju bahwa cloud sangat penting untuk meningkatkan skala inisiatif AI, dengan beban kerja AI hybrid diperkirakan akan tumbuh sebesar 162% dalam 12 bulan ke depan.
AI bergantung pada fondasi infrastruktur yang baik
Laporan DDN mengungkapkan besarnya peran pihak ketiga, dimana 72% mengandalkan keahlian eksternal dan hanya 12% yang hanya bergantung pada tim internal. Hal ini penting karena 83% setuju bahwa tim sedang mengalami kesulitan saat ini dan 98% mengakui adanya kesenjangan keterampilan AI, yang semakin menggarisbawahi perlunya bantuan dari luar.
Studi ini juga menemukan bahwa sebagian besar kegagalan dapat ditelusuri kembali ke silo, baik dalam saluran penyimpanan, komputasi, atau data. “Perusahaan menyadari bahwa penskalaan AI bukanlah masalah komputasi – melainkan masalah integrasi,” tulis CTO DDN Sven Oehme. “Jika infrastruktur Anda tidak terpadu, AI Anda tidak dapat belajar secara efisien.”
Alasan umum kegagalan lainnya mencakup teknologi lama, strategi cloud yang buruk, dan kerumitan dalam menyusun alat alih-alih menyederhanakannya.
“Tanpa infrastruktur yang modern dan terpadu, AI tidak dapat berkembang,” kata CEO DDN Alex Bouzari, seraya menilai perusahaan-perusahaan hanya mengejar model dan GPU dibandingkan berfokus pada “lapisan data di bawahnya.”
Semua ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya tekanan dari para pemangku kepentingan dan regulator. Sebagian besar (93%) kini secara aktif berupaya mengurangi dampak energi AI, dan sekitar setengahnya (47%) menyebut listrik dan pendinginan sebagai inefisiensi terbesar. Oleh karena itu, “Token per watt” muncul sebagai metrik kinerja baru untuk efisiensi AI.
Ikuti TechRadar di Google Berita Dan tambahkan kami sebagai sumber pilihan untuk mendapatkan berita, ulasan, dan opini pakar kami di feed Anda. Pastikan untuk mengklik tombol Ikuti!
Dan tentu saja Anda juga bisa Ikuti TechRadar di TikTok untuk berita, review, unboxing dalam bentuk video, dan dapatkan update rutin dari kami Ada apa juga.



