Bagaimana para pemimpin harus meningkatkan bakat mereka untuk Era AI

Munculnya AI dalam kehidupan perusahaan telah membuat hampir setiap profesional bertanya-tanya seperti apa peran mereka nantinya—atau apakah akan tetap ada—dalam beberapa tahun mendatang. Untuk saat ini, para pemimpin senior mungkin lebih terisolasi dari gangguan dibandingkan rekan-rekan mereka yang kurang berpengalaman, yang pekerjaannya sering kali melibatkan tugas-tugas (mulai dari membuat rencana pemasaran, menganalisis data, hingga menulis kode) yang dapat diotomatisasi secara efektif oleh AI. Namun dampak tertunda tersebut tidak boleh dianggap sebagai izin untuk terus melakukan hal yang sama. Mengingat prediksi peningkatan kemampuan AI secara eksponensial, masuk akal jika banyak elemen pekerjaan seorang pemimpin puncak pada akhirnya akan digantikan atau diambil alih oleh AI. Paling tidak, para pemimpin perlu menyesuaikan cara mereka berinteraksi dan mendukung karyawannya—yang mungkin jumlahnya berkurang—yang memanfaatkan alat AI. Kami telah mempelajari transisi ini dengan cermat—Tomas sebagai psikolog organisasi dan penulis I, Human: AI, Automation, and the Quest to Reclaim What Makes Us Unique, dan Dorie sebagai pembicara utama dan konsultan untuk perusahaan yang mengubah diri mereka dalam menghadapi AI. Berikut adalah empat cara utama yang perlu dilakukan oleh para pemimpin senior untuk meningkatkan bakat mereka di tengah perubahan-perubahan yang disruptif ini agar tidak hanya “mengendarai gelombang AI” namun juga benar-benar bertindak sebagai agen perubahan yang kita perlukan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Tomas Chamorro-Premuzic adalah chief science officer di Russell Reynolds, seorang profesor psikologi organisasi di UCL dan Columbia University, dan salah satu pendiri DeeperSignals. Ia telah menulis 15 buku dan lebih dari 250 artikel ilmiah tentang psikologi bakat, kepemimpinan, AI, dan kewirausahaan. Pelajari Lebih Lanjut 1. Memahami AI sebagai Masalah Kepemimpinan. Sering kali, para pemimpin cenderung menganggap AI sebagai sebuah permasalahan teknologi—alat apa yang harus kita gunakan, dan bagaimana kita dapat membuat karyawan mengadopsinya—dan bukan sebagai tantangan kepemimpinan. Bahkan jika AI berhenti berkembang saat ini, yang kemungkinannya sangat kecil, dampaknya terhadap pekerjaan, organisasi, talenta, dan kepemimpinan sudah sangat besar. Penting bagi para pemimpin untuk memikirkan peran AI yang berkelanjutan dalam organisasi mereka secara holistik—misalnya, dengan meninjau kembali model operasi, struktur, insentif, dan bahkan keputusan talenta mereka tentang siapa yang perlu dipekerjakan atau dipromosikan agar sesuai dengan keadaan baru. 2. Ketahui Pertanyaan yang Tepat untuk Ditanyakan. Para pemimpin tidak dapat mengandalkan tim teknologi atau karyawan juniornya untuk menggunakan AI atas nama mereka, seperti seorang CEO lama yang memaksa sekretarisnya untuk mencetak email untuk dibaca. Tidak seorang pun diharapkan mengetahui jawaban yang “benar” ketika menyangkut teknologi yang bergerak cepat, namun para pemimpin perlu menyingsingkan lengan baju mereka dan bereksperimen dengan teknologi tersebut untuk mengajukan pertanyaan strategi yang tepat, seperti: a. Apa sebenarnya arti AI bagi bisnis atau organisasi spesifik kita? B. Di mana dan mengapa adopsi AI akan membantu (atau tidak)? Perluas untuk terus membaca ↓
Diterbitkan : 2026-07-10 19:00:00
sumber : www.fastcompany.com



