Kapten Afghanistan Rashid Khan saat sesi latihan jelang pertandingan Piala Dunia T20 melawan Uni Emirat Arab di New Delhi pada 15 Februari 2026 | Kredit Foto: Shiv Kumar Pushpakar
Sehari sebelum Afghanistan berhadapan dengan Uni Emirat Arab dalam pertandingan Piala Dunia T20 yang wajib dimenangkan di Stadion Arun Jaitley, Senin (16 Februari 2026), Rashid Khan kembali menyegarkan dengan kecerdasan dan keterusterangannya.
Kapten Afghanistan itu menjawab pertanyaan tentang keputusasaannya karena kalah dari Afrika Selatan di Ahmedabad setelah bukan hanya satu tapi dua Super Over, kerinduannya akan masakan Afghanistan ketika jauh dari rumah, dan juga dengan cerdik menghindari permintaan prediksi tentang pertempuran India versus Pakistan dengan menyindir tentang cuaca di Kolombo. “Prediksi saya hujan. Itu yang saya lihat di berita,” ujarnya sambil bercanda.
Pertanyaan pertama berkaitan dengan klimaks gila melawan Proteas. Hasilnya pasti meninggalkan rasa masam, namun ace leggie masih berpegang teguh pada secercah harapan.
“Ini mengecewakan. Satu setengah tahun terakhir, kami bekerja keras untuk Piala Dunia ini,” kata Rashid. “Tetap saja, apa pun bisa terjadi. Kita telah melihat Zimbabwe mengalahkan Australia.”
Kekalahan tipis seperti yang dialami Afrika Selatan, diakui pemain berusia 27 tahun itu, cenderung menimbulkan luka psikologis. Hal ini mengingatkan Rashid pada malam yang menyiksa di Mumbai pada Piala Dunia ODI 2023 ketika rekor tak terkalahkan Glenn Maxwell pada tahun 2011 membawa Australia melampaui batas.
“Pertandingan SA tidak akan hilang dari pikiran kami. Kekalahan dari Australia di Wankhede pada Piala Dunia 2023 tidak hilang dari pikiran kami sampai kami mengalahkan mereka di Piala Dunia T20 2024. Kami butuh waktu untuk melupakannya,” ungkapnya.
Agar Afghanistan bisa menang dalam pertandingan yang ketat, Rashid yakin bahwa timnya harus lebih sering terlibat melawan tim-tim papan atas.
“Jika kami bermain melawan Selandia Baru dan SA di pertandingan bilateral dan bukan hanya di Piala Dunia, kami akan punya lebih banyak ide,” katanya. “Di Piala Dunia, tidak ada ruang untuk melakukan kesalahan. Jadi, tekanannya berbeda.”
Diterbitkan – 15 Februari 2026 18:02 WIB



