
Menjelang Hari Valentine, para peneliti mungkin telah menemukan cara terbaik untuk menghindari perdebatan canggung saat kencan malam hanya dengan mengajukan satu pertanyaan.
Sebuah tim di Stanford menemukan bahwa meskipun seseorang tidak sependapat dengan Anda, tanyakan kepada mereka, ‘Bisakah Anda ceritakan lebih banyak mengapa Anda berpikir seperti itu?’ membuat mereka memandang Anda dengan lebih positif.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang ditanyai pertanyaan tersebut merasa tidak terlalu negatif, menjadi lebih berpikiran terbuka terhadap sudut pandang yang berlawanan, dan bahkan lebih menyukai orang yang memiliki pendapat yang bertentangan.
Dengan menggunakan eksperimen yang melibatkan lebih dari 100 mahasiswa yang dihadapkan pada sudut pandang berbeda, baik saat mengobrol online atau saat menonton video, para peneliti menemukan bahwa sekadar ‘merasa didengar’ saja sudah memicu emosi. lebih positif dan menarik.
Sekalipun kedua orang tersebut tidak pernah sepakat mengenai suatu topik tertentu, meminta seseorang untuk menyampaikan poin-poin penting dari argumen mereka akan membuat peserta merasa seolah-olah ada orang yang setuju. tertarik dengan pendapat mereka.
Pada suatu kencan, terutama saat awal menjalin hubungan baru, perbedaan pendapat bisa muncul dengan cepat. Hal ini dapat berkisar dari perbedaan selera terhadap film hingga perdebatan yang lebih serius mengenai politik partisan.
Namun, penelitian tersebut menyarankan bahwa, daripada langsung mengungkapkan alasan Anda berpikir sebaliknya, ajukan pertanyaan serupa kepada teman kencan Anda, seperti ‘Saya ingin mendengar lebih banyak tentang apa yang membuat Anda tertarik pada hal tersebut.’
Hal ini menunjukkan bahwa Anda tertarik pada mereka sebagai pribadi, bukan sekadar berusaha membuktikan suatu hal, membuat percakapan mengalir lebih baik, dan mengarahkan mereka untuk memandang Anda secara lebih positif sebagai calon pasangan.
Peneliti Stanford telah menemukan bahwa rahasia untuk membuat kencan terasa lebih positif tentang Anda adalah dengan meminta mereka menjelaskan mengapa mereka memiliki pendapat tertentu (Stock Image)
Peneliti Frances Chen, Julia Minson, dan Zakary Tormala melakukan beberapa eksperimen dengan mahasiswa yang menyatakan pendapat kuat tentang berbagai topik dan secara vokal tidak setuju dengan pesan yang berlawanan.
Dalam satu percobaan, 56 mahasiswa sarjana yang semuanya menentang keharusan ujian akhir komprehensif untuk kelulusan diundang ke laboratorium Stanford pada tahun 2009.
Peserta ditempatkan di ruang pribadi, menilai pandangan mereka mengenai kebijakan sekolah, dan kemudian terlibat dalam obrolan online dengan mitra komputer yang mendukung ujian.
Ketika peneliti menguji bagaimana menunjukkan minat mempengaruhi setiap siswa, tanggapan mitra ngobrol mencakup pertanyaan seperti ‘Saya tertarik dengan apa yang Anda katakan. Bisakah Anda ceritakan lebih banyak tentang mengapa Anda berpikir seperti itu?’
Sementara itu, kelompok kontrol hanya bertukar argumen antara siswa dan chatbot, tetapi tidak ada pertanyaan tentang perbedaan sudut pandang.
Siswa yang menerima pertanyaan tentang pendapat mereka menilai pasangannya lebih berpikiran terbuka, merasa lebih menerima pandangan yang berlawanan, dan memandang pendukung kebijakan tersebut tidak terlalu negatif.
“Pihak-pihak yang berkonflik, mulai dari negara yang bertikai hingga pasangan yang marah, sering kali mengalami rasa frustrasi selama berdialog, bukan hanya karena perbedaan pandangan yang mendasar, namun juga karena mereka merasa bahwa pihak lain tidak mendengarkan dengan cara yang benar-benar tertarik,” tulis tim tersebut dalam laporannya. Jurnal Psikologi Sosial Eksperimental.
‘Bahkan ketika pihak-pihak yang berseberangan enggan untuk menyatakan persetujuan satu sama lain, perasaan bahwa keluhan mereka diperhatikan dan ditanggapi dengan serius dapat menjadi hasil yang berarti.’
Para peneliti telah menunjukkan bahwa menunjukkan keterampilan mendengarkan berkualitas tinggi dapat membuat pasangan menjadi tidak terlalu bias atau berprasangka buruk (Stock Image)
Dalam studi terpisah yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Israel dan Inggris pada tahun 2020, ketika seseorang menunjukkan ‘pendengaran berkualitas tinggi’, hal tersebut ditemukan membantu mengurangi prasangka atau sikap bias pada orang yang berbicara dan didengarkan.
Mendengarkan berkualitas tinggi digambarkan sebagai sikap terlibat penuh, memberikan perhatian penuh, dan menunjukkan pemahaman melalui tindakan seperti mengangguk atau mengajukan pertanyaan lanjutan yang bijaksana.
Para peneliti menguji ide ini melalui tiga percobaan yang melibatkan 952 peserta dan menyimpulkan bahwa mendengarkan dengan kualitas tinggi menunjukkan minat dan rasa hormat yang tulus kepada pembicara.
Penelitian tersebut, juga dipublikasikan di Jurnal Psikologi Sosial Eksperimentalmenemukan bahwa mendengarkan dengan baik meningkatkan dua sifat khusus pada pembicara: wawasan diri (pemahaman lebih dalam tentang pikiran, perasaan, dan bias mereka sendiri) dan keterbukaan terhadap perubahan (keinginan yang lebih besar untuk mempertimbangkan kembali pandangan mereka).
Ketika berbicara tentang kencan dan hubungan baru, penelitian ini menunjukkan bahwa menjawab dengan pertanyaan yang tulus dan berkualitas tinggi, bahkan terhadap pendapat yang paling bias sekalipun, dapat membangun kepercayaan dan keintiman jauh lebih baik daripada langsung berdebat atau mengabaikan pandangan tentang kencan.
Misalnya, jika seorang teman kencan mengatakan sesuatu yang bias, penelitian tersebut menyarankan untuk menahan diri dari keinginan untuk membalas dengan pendapat yang berlawanan dan, sebaliknya, tunjukkan rasa ingin tahu tanpa menghakimi dengan mengatakan, ‘Saya sangat tertarik, dapatkah Anda menjelaskan pengalaman apa yang membentuk perasaan itu bagi Anda?’
Kemudian, gunakan keterampilan mendengarkan berkualitas tinggi dengan merefleksikan apa yang Anda dengar dan hindari menyela tanggapan mereka.
Penelitian menemukan bahwa tindakan ini dapat menciptakan lingkungan di mana orang lain merasa dihargai, yang sering kali membuat mereka lebih terbuka, lebih menyukai Anda, dan bahkan mungkin mempertanyakan asumsi mereka sendiri secara diam-diam.



