
Sebuah studi baru menunjukkan bahwa residu organik dari botol kaca obat berusia 1.900 tahun dari zaman Romawi berasal dari kotoran manusia. Thyme digunakan untuk menutupi baunya.
Serpihan coklat tua yang ditemukan di dalam toples kaca Romawi berusia 1.900 tahun merupakan bukti langsung pertama penggunaan kotoran manusia untuk tujuan pengobatan.
Kesimpulannya adalah dari sebuah penelitian yang akan dilakukan diterbitkan dalam edisi April Jurnal Ilmu Arkeologiyang merinci kotoran apa yang tercampur thyme untuk menutupi baunya.
Selain itu, campuran mungkin telah digunakan untuk mengobati peradangan atau infeksi.
Studi baru ini merinci analisis isi salep tertentu, botol kaca kecil yang digunakan untuk menampung parfum, minyak, atau obat-obatan. Stoples kaca tersebut telah ditutup dengan tanah liat pada zaman kuno dan ditemukan di sebuah makam di kota kuno Pergamus, di Eropa Barat. Turki.
“Saat kami buka salepnya, tidak ada bau busuk,” ujarnya Sains Langsungpemimpin investigasi Cenker Atilaarkeolog di Universitas Sivas Cumhuriyet, Turki.
Dua dari senyawa yang diidentifikasi — koprostanol dan 24-etilcoprostanol — kandungannya biasanya ditemukan di saluran pencernaan hewan yang memetabolisme kolesterol.
“Studi ini memberikan bukti kimia langsung pertama tentang penggunaan kotoran sebagai obat pada zaman Yunani-Romawi,” tulis para peneliti, dikutip dari Live Science.
Penemuan penting lainnya dalam residu tersebut adalah carvacrolsenyawa organik aromatik yang terdapat dalam minyak atsiri yang dihasilkan dari tumbuhan tertentu.
“Kami mengidentifikasi kotoran manusia yang bercampur dengan thyme. Seperti yang kami ketahui dari sumber teks kuno, kami segera mengenali ini sebagai a persiapan obat yang digunakan oleh dokter Romawi terkenal Galen“, kata Attila.
Dalam pengobatan Romawi, ada beberapa pengobatan populer yang berbahan dasar kotoran untuk mengobati berbagai kondisi mulai dari peradangan dan infeksi hingga gangguan reproduksi. Para peneliti mencontohkan fakta bahwa Galen menyebutkan nilai terapeutik dari kotoran seorang anak yang mengonsumsi kacang-kacangan, roti, dan anggur.



