Haruskah Partai Keadilan Sejahtera Dibubarkan?

Bermula dari lembaga dakwah dari kampus ke kampus yang terus menyebar dari tahun 1980 sampai pada saat krisis moneter menerpa Indonesia pada tahun 1997 lalu, akhirnya melalui para tokoh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dibentuklah sebuah partai yang bernama Partai Keadilan (PK).

PK sendiri mulai dideklarasikan secara resmi pada tanggal 20 Juli 1998 di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta dengan presiden pertamanya adalah Nirmahmudi Isma’il. Ikut bertarung dalam kancah politik di tahun 1999, PK hanya mendapatkan 1,36 persen suara dan total keseluruhan. Dikarenakan hal itulah, maka PK harus stembus accord dengan 8 partai politik lainnya pada bulan Mei 1999.

Kegagalan PK dalam kancah politik dan juga memenuhi standar batas minimun parlemen pada saat digelarnya Pemilihan Umum sesuai dengan regulasi dari pemerintah, maka jika tidak bubar, maka partai yang bersangkutan harus berganti nama. Dan akhirnya pada tanggal 3 Juli 2013, secara resmi PK berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Berganti namanya PK menjadi PKS ini ternyata membuat partai tersebut sukses meraih 7,84 persen dari total suara nasional pada Pemilu Legislatif 2014 lalu. Dan sejak saat itu, PKS menjadi salah satu partai yang diperhitungkan.

Namun setelah Pemilihan Presiden tahun 2014 di mana memenangkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla atau pasangan yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar tersebut, PKS lantas menjadi kubu oposisi. Bahkan menjelang digelarnya Pilpres pada tahun 2019 mendatang, PKS terus melancarkan serangan membabi-buta kepada Jokowi selaku calon inkumben untuk pemilihan nanti.

Dikarenakan hal itulah, banyak pihak atau juga partai yang tidak suka akan pergerakan PKS yang dirasa ngawur dan serampangan serta mencederai sisi demokrasi, bersama-sama langsung mengusung asa untuk membubarkan partai yang bersangkutan.

Tidak hanya itu saja, muncul sebuah pernyataan yang masih belum diketahui kebenarannya, dari seorang ustaz bernama Mashadi yang mana menjadi salah satu deklarator terbentuknya PK untuk membubarkan PKS dan kembali ke jalan dakwah daripada terus berada di dunia politik.

“Menurut saya, partai ini sudah tidak bisa diselamatkan. Pilihan paling baik, membubarkan diri dan kembali pada gerakan dakwah,” ujar Ustaz Mashadi dalam sebuah foto dirinya dengan caption seperti itu yang kini sudah beredar luas di internet.

Bahkan asa untuk terus mengusung pembubaran PKS ini juga sedang ‘digodok’ oleh Ketua Progres 98 Faizal Assegaf. Assegaf sendiri mengatakan bahwa jika memang tidak ada yang lain, maka dirinya sendiri akan menempuh jalur hukum untuk membubarkan PKS yang mana menurutnya kerap memberikan dukungan terhadap bangkitnya paham radikal dan terorisme di Tanah Air.

“Kalau Soekarno bisa membubarkan Masyumi, Orde Baru bubarkan PKI, gerakan reformasi harus bubarkan PKS. Saya mau tanya jujur. Apakah kita datang di sini untuk tujuan bubarkan PKS?” teriak Assegaf di depan ribuan aktivis 99 yang mana ikut hadir dalam suatu acara yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat pada hari Selasa (29/5) lalu.

“Jika satu hati, maka saya langsung pada langkah operasionalnya. Saya ingin mengatakan kepada saudara sekali, baru 20 tahun saya bisa berkumpul sama Masinton, Wahab, Adian, kita tak bisa berkumpul. Tapi, hari ini kita berkumpul karena memiliki musuh bersama. Musuh bersama dengan meminjam mulut saya, bahwa semua sepakat bubarkan.”

Jika nantinya PKS akhirnya berhasil dibubarkan, maka kekuatan poros oposisi yang selama ini memberikan tekanan dan serangan terhadap Jokowi akan semakin berkurang drastis.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *